Tuhan vs. Sains: Kebenaran di Balik Perdebatan

Sains, sebuah kata yang menjadi sorotan utama dalam perdebatan panjang antara keyakinan agama dan pandangan skeptisisme. Namun, apakah sains benar-benar menjawab segalanya, ataukah ada ruang bagi eksistensi Tuhan?

FAITH & RELIGION

4/3/2024

Beberapa hari yang lalu, saya membaca tulisan dari salah seorang doktor bidang fisika lulusan Jepang dari Indonesia yang muncul di halaman media sosial Facebook saya. Beliau sepertinya memiliki cukup banyak pengikut di laman media sosialnya. Pada kesempatan ini, saya secara khusus menyoroti tulisan beliau yang mengatakan, "...sains tidak membutuhkan pembenaran dari pihak lain, misalnya agama. Kaum beragamalah yang sering memakai sains sebagai pembenaran terhadap agama. Bahkan sering pula memakai plesetan sains sekadar untuk mengklaim kebenaran agama." Saya meyakini bahwa dalam postingan ini beliau ingin mengatakan bahwa sains tidak membutuhkan validasi dari agama. Baginya, sains telah menjadi pijakan yang kokoh untuk menjelaskan fenomena alam, tanpa perlu campur tangan kepercayaan agama.

Saya merasa tidak mungkin sebagai seorang ilmuwan untuk menganggap serius pernyataan seperti ini. Menurut saya, pernyataan di atas tidak hanya ironi, tetapi juga sangat mereduksi keberadaan dan kebenaran sains. Posisi saya adalah meyakini bahwa sains menunjukkan sebagian dari kebesaran Tuhan itu sendiri.

Sejumlah tokoh terkenal dalam sejarah ilmu pengetahuan sebenarnya terinspirasi oleh keyakinan akan adanya Tuhan dalam pencarian pengetahuan. Mereka melihat sains sebagai alat untuk memahami kebesaran penciptaan Tuhan. Galileo, Copernicus, Kepler, dan Newton mengharapkan bisa menguak misteri hukum alam karena mereka percaya akan adanya sosok pembuat hukum terbesar, yang sampai saat ini masih menjadi misteri bagi peradaban ilmu pengetahuan itu sendiri. Mereka dalam karya-karya hukum alamnya yang terkenal, menyisipkan penghormatan kepada Sang Pencipta.

Fisikawan terkenal James Clerk Maxwell* yang menemukan teori elektromagnetik menulis dengan tegas di atas pintu laboratoriumnya di Universitas Cambridge kata-kata: "Besarlah karya-karya Tuhan yang dikaji oleh semua yang terdorong untuk mencarinya."

Alan Sandage yang dianggap sebagai salah satu bapak astronomi modern mengatakan, "Saya menemukan sangat tidak mungkin bahwa ketertiban alam semesta ini muncul dari kekacauan. Harus ada suatu prinsip pengatur. Tuhan bagi saya itu adalah misteri tetapi juga merupakan penjelasan paling logis untuk mukjizat keberadaan mengapa sesuatu ada."

Ketika Newton menemukan hukum gravitasi, dia tidak mengatakan, "Sekarang saya tahu bagaimana alam semesta bekerja, saya tidak membutuhkan Tuhan." Tidak!! Justru kekagumannya atas bagaimana fenomena gravitasi itu terjadi meningkatkan kekagumannya terhadap Sang Pencipta yang bisa mendesainnya dengan sedemikian rupa. Newton menulis karya ilmiah yang paling terkenal sepanjang masa, PRINCIPIA MATHEMATICA, dengan harapan itu akan semakin meyakinkan orang yang berpikir untuk percaya pada adanya Tuhan.

Ide bahwa Tuhan dan ilmu pengetahuan/sains adalah penjelasan yang saling terpisah dari alam semesta sama salahnya seperti mengatakan bahwa pembakaran dalam mesin dan Henry Ford adalah penjelasan yang saling terpisah dari mobil. Mereka adalah penjelasan yang saling melengkapi; yang satu menjelaskan bagaimana itu bekerja, yang lain menjelaskan mengapa itu ada.

Demikian juga teleskop dapat menunjukkan kepada kita keajaiban langit malam, tetapi sains tidak menempatkan bintang-bintang itu di atas sana, tidak juga hukum biologi dan fisika yang menempatkannya di sana. Semua ilmu pengetahuan itu hanya menggambarkan apa yang ada, tetapi mereka tidak menempatkannya.

Para ateis saat ini cenderung menempatkan sains sebagai landasan tunggal kebenaran, dengan menolak eksistensi Tuhan sebagai sesuatu yang tidak diperlukan dalam pemahaman dunia. Mereka sering menggunakan argumen sains sebagai alat untuk menepis klaim agama tentang keberadaan Tuhan. Mereka tampaknya buta akan kenyataan bahwa mereka sendiri didorong oleh iman atau keyakinan atau kepercayaan atau apapun sebutannya. Mereka percaya bahwa pikiran mereka dapat menangkap kebenaran, mereka percaya pada ilmu pengetahuan, mereka percaya bahwa Tuhan tidak ada. Namun doktor fisika ini seolah ingin memberi tahu kita dalam tulisannya yang bergaya oksimoron klasik ini bahwa prinsip-prinsip mereka, kepercayaan mereka bukanlah sebuah iman, keyakinan mereka bukan keyakinan!

Para pionir awal ilmu pengetahuan terbukti mampu melihat pembenaran rasionalitas bahwa ilmu pengetahuan disediakan oleh keberadaan Sang Pencipta, yang menciptakan tidak hanya alam semesta tetapi juga pikiran manusia yang mempelajarinya. "Pada awalnya adalah Firman dan Firman itu adalah Tuhan, segala hal diciptakan oleh-Nya." Itu masuk akal bagi saya sebagai seorang ilmuwan. Ilmu pengetahuan tentu saja sangat penting tetapi dia memiliki batasannya.

Sampai saat ini sains tidak bisa menjawab pertanyaan seorang anak kecil tentang untuk apa kita di sini dan apa arti hidup ini. Sains juga tidak bisa memberi tahu kita apakah literatur atau seni itu baik atau buruk. Oleh karena itu, ateisme yang menegaskan bahwa ilmu pengetahuan adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran mengurangi arti kebenaran kehidupan itu sendiri.

Para ilmuwan sampai saat ini bahkan tidak bisa memberi tahu Anda apa itu energi. Kami ilmuwan tentu bisa memahami konsep dan efek energi, kami tentu bisa memahami bagaimana menggunakan energi, tanpa sepenuhnya memahami apa sebenarnya energi itu sendiri. Jadi jangan heran jika saya pun tidak dapat sepenuhnya menjelaskan kepada Anda misteri terdalam sejarah alam semesta kita ini.

Pada akhirnya, kita harus memahami bahwa sains dan keberadaan Tuhan tidaklah saling mengalahkan. Sebaliknya, keduanya dapat bersatu dalam memberikan wawasan yang lebih dalam dan berharga tentang alam semesta ini.

Izinkan saya mengutip penyataan legendaris lainnya dari James Clerk Maxwell, salah satu tokoh terkenal dalam sejarah ilmu pengetahuan fisika dan matematika;

"Saya telah mempelajari sebagian besar ilmu sistem filosofis dan saya telah melihat bahwa tidak ada yang akan berhasil tanpa Tuhan."

"Ilmu pengetahuan tidak kompeten untuk merasionalkan bagaimana penciptaan suatu materi itu dari ketiadaan. Kita telah mencapai batas maksimum dari kemampuan berpikir kita ketika kita telah mengakui, bahwa karena materi tidak bisa abadi dan ada dengan sendirinya, materi haruslah diciptakan."

Terimakasih.

* image source: https://images.app.goo.gl/tJCsEc9vdcXBqK4a8

** Isi tulisan dalam artikel ini sebagian besar terinspirasi dari kutipan pandangan Dr. William Lane Craig & Prof. John Lennox, seorang ahli di bidang Matematika dari Oxford University.