Rocky–Syahganda Masuk Istana: Jokowi Dilemahkan, Kritik Dijinakkan?
SOCIAL & POLITICS
Dr Hadumanro Malau, AFHEA
10/6/20263 min read


Kekuasaan tidak selalu menghadapi pengkritik dengan bantahan. Kadang, ia menyediakan kursi. Pengkritik memperoleh kesempatan memengaruhi keputusan; penguasa memperoleh kesempatan mengatakan bahwa kritik sudah ikut duduk di dalam. Keduanya bisa mengaku menang. Publik masih harus memeriksa siapa yang akhirnya berubah: kebijakannya atau keberanian orang yang mengkritiknya.
Masuknya Rocky Gerung dan Syahganda Nainggolan ke pemerintahan Prabowo membuka pertanyaan itu. Rocky dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Syahganda sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah pada 2 Oktober 2026. Hari ini, 6 Oktober, berlangsung serah terima jabatan Syahganda dari Muhammad Qodari, disertai penjelasan Rocky mengenai pilihannya bergabung. [Ref.1]
Dugaan bahwa Prabowo sedang menggunakan figur yang diasosiasikan dengan kritik terhadap Jokowi untuk mengurangi pengaruh pendahulunya layak diuji. Tetapi mengurangi pengaruh, merusak legitimasi, dan memutus hubungan politik adalah tiga hal berbeda. Pengangkatan seseorang dapat mengubah keseimbangan akses tanpa otomatis membuktikan kampanye menjatuhkan reputasi mantan presiden Jokowi.
Ada fakta yang mengganggu cerita sederhana tentang tesis penguatan barisan anti-Jokowi: Wantimpres justru dipimpin Pratikno, dengan Qodari sebagai sekretaris merangkap anggota. Rocky duduk sebagai anggota dalam lembaga yang sama. Pratikno sendiri merupakan Menteri Sekretaris Negara sepanjang 2014–2024. Karena itu, perkembangan ini juga mengoreksi kesan bahwa keluarnya Pratikno dari Menko PMK berarti ia sudah tersingkir dari lingkar pemerintahan.
Apabila tujuannya semata-mata membangun benteng anti-Jokowi, susunannya cukup ganjil: pengkritik ditempatkan bersama figur penting pemerintahan sebelumnya. Penjelasan yang lebih sesuai dengan komposisi tersebut ialah upaya menghimpun berbagai jaringan di bawah otoritas Prabowo. Ini adalah analisis politik saya atas susunan lembaga, bukan informasi valid tentang percakapan tertutup Presiden Prabowo di balik istana.
Keuntungan strategisnya dapat berlapis. Prabowo memperluas sumber masukan, membuka hubungan dengan kalangan yang sebelumnya berada di luar, sekaligus menjadi titik temu kelompok yang saling berbeda. Dalam skenario ini, pengaruh Jokowi mungkin berkurang secara relatif karena tersedia lebih banyak jalur dukungan. Namun, hasil tersebut dapat muncul tanpa memerlukan permusuhan terbuka atau pembersihan menyeluruh.
Satirenya terletak di sini: perdebatan lama tidak harus dimenangkan apabila para pendebatnya dapat dipertemukan dalam satu daftar undangan. Mereka boleh berbeda tentang masa lalu, tetapi kini memiliki kepentingan bersama agar akses kepada Presiden tetap terbuka. Itu kemungkinan insentif yang perlu diawasi, bukan tuduhan bahwa semua orang telah menukar prinsip.
Penjelasan Rocky patut mendapat ruang atensi. Hari ini, ia mengatakan ingin pikirannya lebih cepat sampai kepada Presiden, menolak anggapan bahwa reputasinya ditukar dengan fasilitas, dan menegaskan independensinya. [Ref.2]. Argumen bekerja dari dalam tidak otomatis keliru. Kritik yang memengaruhi keputusan sebelum kerugian terjadi dapat lebih berguna daripada kecaman paling cemerlang setelah semuanya terlambat.
Tetapi akses bukan pengaruh, dan pengaruh bukan jaminan koreksi. Duduk lebih dekat dengan Presiden memang memperpendek perjalanan suara. Belum tentu memperpanjang kesediaan kekuasaan mendengarkan. Ukuran keberhasilannya ialah apakah masukan yang tidak menyenangkan dapat mengubah keputusan, termasuk ketika perubahan itu mengganggu agenda orang yang memberikan jabatan.
Di sini terdapat persoalan keterlihatan hasil. Hatta Rajasa, setelah pelantikan, menekankan kerahasiaan pertimbangan Wantimpres. Publik karena itu tidak selalu dapat memeriksa nasihat yang disampaikan. Keheningan Rocky kelak tidak otomatis membuktikan ia telah tunduk, tetapi pernyataan “saya sudah mengkritik dari dalam” juga tidak cukup menjadi bukti keberhasilan. Hasil kebijakan, konsistensi sikap, dan kesediaan mengakui kegagalan menjadi semakin penting.
Posisi Syahganda menghadirkan ujian berbeda. Sebagai Kepala Bakom, ia mengemban pekerjaan komunikasi pemerintah. Arahan yang disampaikannya mencakup penyampaian pikiran Presiden kepada masyarakat sekaligus membawa keadaan masyarakat kepada Presiden. Dalam serah terima hari ini, ia juga menyatakan akan meneruskan pekerjaan Qodari. [Ref.3]. Pernyataan keberlanjutan itu tidak cocok dengan gambaran gaya komunikasi dia yang sepenuhnya sangat berbeda dengan Qodari.
Ujiannya bukan seberapa tajam ia membantah lawan pemerintah. Ujiannya adalah apakah ia bersedia membawa kabar buruk kepada pemberi tugas. Komunikasi dua arah kehilangan makna apabila pujian mendapat jalur cepat menuju Istana, sementara keluhan rakyat diminta melengkapi berkas. Pemerintah membutuhkan informasi yang benar sebelum membutuhkan penjelasan yang menyenangkan.
Rocky sendiri melontarkan candaan agar tugas pertama Syahganda adalah memulihkan nama baiknya setelah dikritik karena masuk pemerintahan. Pemberitaan mencatatnya sebagai kelakar, sehingga tidak layak diperlakukan sebagai instruksi resmi. [Ref.4]. Meski demikian, lelucon itu menyediakan pengingat yang berguna: komunikasi negara tidak boleh berubah menjadi layanan perawatan reputasi para pejabatnya.
Maka, kemungkinan strategi Prabowo yang lebih luas adalah menyerap sumber kritik sekaligus memperluas dukungan. Pengkritik mendapat kanal resmi; Presiden mendapat keragaman figur dan peluang mengurangi pertentangan dari luar. Jika kritik tetap bekerja, masyarakat memperoleh manfaat. Jika kritik kehilangan daya setelah pemiliknya memperoleh jabatan, yang terjadi adalah penjinakan, meskipun tidak pernah diumumkan sebagai tujuan.
Bukti pembeda akan muncul dalam tindakan. Serangan yang semakin terarah kepada Jokowi, disertai pengurangan akses jaringan lamanya, akan memperkuat dugaan strategi pelemahan. Sebaliknya, kritik yang menghasilkan perbaikan kebijakan Prabowo akan mendukung alasan bekerja dari dalam. Bila tokoh-tokohnya tetap vokal terhadap masa lalu tetapi mendadak hemat kata terhadap kesalahan pemerintah sekarang, publik berhak mempertanyakan standar gandanya.
Sampai saat ini saya menganalisa bahwa konsolidasi Prabowo melalui perangkulan berbagai kubu lebih kuat sebagai penjelasan daripada operasi tunggal untuk meruntuhkan legitimasi Jokowi. Motif pribadi Presiden tetap belum terbukti. Menganggap setiap pengangkatan sebagai langkah catur yang mahajenius juga memberi kekuasaan terlalu banyak kredit sebelum hasil kerjanya terlihat.
Rocky dan Syahganda kini menghadapi ujian yang tidak selesai dengan menjelaskan niat baik. Mereka harus menunjukkan bahwa kedekatan tidak menumpulkan penilaian. Sebab, kemenangan terbesar kekuasaan bukan ketika pengkritiknya berhenti berbicara. Kemenangan itu terjadi ketika pengkritiknya tetap terdengar lantang, tetapi hanya kepada pihak yang tidak lagi menentukan nasib jabatannya.
